CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »
Showing posts with label Ibrah. Show all posts
Showing posts with label Ibrah. Show all posts

Friday, March 25, 2011

Mus'ab Ibn Umair ; Sufara' lil Islam Pertama

Bismillahirrahmanirrahim...

Hari ini mahu berkongsi, berbekal semangat dan inspirasi anak muda, mari kita bersama renung sejenak kisah sufara' Islam (duta Islam) ini. Kisah anak muda, zaman Rasulullah ...      

     
                 As-syahid yang berlumur darah dan terkubur di tanah Uhud, kakinya ditutupi rumput-rumput harum, badannya hanya ditutupi sepetak kain wool yang tidak cukup menutupi seluruh tubuhnya. Seseorang itu dulunya adalah anak kesayangan ibunya, diberi pakaian paling mahal. Harum perfumenya menyebar ketika dia berjalan. Dialah dulunya yang menjadi pembicaraan wanita-wanita Makkah, dan idola teman-temannya. Dialah seorang pemuda paling popular di kalangan kaum muda Quraish. Pemuda itu meninggalkan semua hal keduniaan itu untuk pergi memenuhi panggilan Allah dan mencari ridhaNya. Pemuda itu ialah Mus’ab bin Umair bin Hashim bin Abd Munaf atau yang dikenal sebagai Mus’ab al Khair.

                    Mus’ab yang saat itu masih muda mendengar tentang munculnya seorang nabi terpilih di kalangan kaum Quraisy. Seorang nabi yang membaca ajaran tauhid. Didorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, maka Mus’ab pun pergi menemui Nabi SAW untuk mendengar sendiri ajaran yang dibawa oleh baginda. Suatu malam, Mus’ab memutuskan untuk pergi ke rumah Al-Arqaam Ibn Al-Arqam  yang kemudian dikenal dengan Daar al Arqaam di kalangan muslim, meninggalkan teman-temannya yang sedang berkumpul. Di sinilah Mus’ab bertemu dengan Nabi SAW dan muslim-muslim lainnya ketika itu, tanpa diketahui oleh orang-orang Quraish. Di sinilah dimana Mus’ab mendengar Rasulullah berbicara tentang masa depan Islam, mendengar ayat-ayat quran dan solat di belakang Rasulullah SAW. Malam itu, Mus’ab duduk bersama muslim lainnya, mendengarkan ayat-ayat quran yang dikumandangkan oleh Rasulullah SAW. Ketika itulah, Mus’ab lupa akan kesenangan hidup di dunia, menemukan kunci kebahagiaan abadi.

                   Perjalanan Mus’ab dalam memeluk islam tidaklah mudah. Ibunya yang bernama Khunnas binti Maalik adalah penentang utama akan keyakinan barunya ini. Untuk menghindari pertengkaran, maka Mus’ab mula-mula tidak memberi tahu ibunya bahawa dia telah memeluk islam. Tetapi, melalui pembicaraan orang-orang yang sering melihat Mus’ab mengunjungi Daar Al-Arqam akhirnya ibunya pun mengetahui bahwa Mus’ab telah menjadi muslim. Ibunya yang terkenal sebagai seorang penyembah berhala yang kukuh memerintah Mus’ab untuk kembali ke agama berhala dan bertaubat, meninggalkan islam. Mus’ab menolak dan akhirnya dikunci di salah satu sudut rumah itu.

                      Berita bahwa kaum muslim hijrah ke Habsyah sampai ke telinga Mus’ab. Rindu akan bertemu dengan saudara-saudara seagamanya, Mus’ab pun melarikan diri dari ibunya dan penjaga-penjaganya, kemudian bergabung dengan muslimin yang pindah ke Habsyah. Tak lama kemudian, Mus’ab pulang ke Makkah untuk hijrah kedua kalinya bersama Rasulullah SAW ke Yasthrib. Ketika Mus’ab pulang dari Habsyah, Ibunya berusaha memenjarakan Mus’ab. Tetapi Mus’ab bersumpah akan membunuh siapa yang akan berusaha menangkap dan mempenjarakannya. Tahu akan keras dan teguhnya pendirian anaknya, Ibunya berikrar sambil bahwa Mus’ab tidak diakui lagi menjadi anaknya. 

“Pergi, kamu bukan anakku lagi.” Pada saat itu Mus’ab berkata pada ibunya,
“Oh Ibu, aku ingin menasihatimu dan sesungguhnya hatiku menyayangimu, ibu bersaksilah bahwa tiada tuhan melainkan Allah dan Muhammad adalah utusanNya.

Dengan muka merah padam ibunya bersumpah “Demi bintang-bintang, aku tak akan pernah masuk ke dalam agamaku, merendahkan martabatku dan dan melemahkan fikiranku!”
Mus’ab memasuki Islam dengan sebenar-benarnya, mengikuti firman Allah dalam Al-quran yang berbunyi:

Udkhuluu fi silmi kaafah (Masukilah islam dengan sempurna/kaffah). 

Tiada lagi kemewahan pada dirinya, bajunya sederhana, makanan seadanya, dan tanah adalah tempat tidurnya. Suatu hari, Mus’ab pergi untuk bertemu beberapa muslim. Ketika itu mereka sedang duduk bersama Nabi SAW. Ketika mereka melihat Mus’ab, mereka menundukkan kepala sambil menangis diam-diam. Ingatan mereka kembali kepada seorang anak muda yang dulunya anak kesayangan sang ibu, dapat meminta apa saja keinginannya.Pakaian mewahnya dulu kini telah berganti dengan pakaian sederhana yang penuh tampalan, yang hampir saja tak mencukupi badannya. Ketika Mus’ab pergi meninggalkan majlis itu, Nabi SAW mengatakan: 

Aku lihat Mus’ab, dan sungguh tidak ada anak muda di Makkah yang lebih berpunya daripada ia. Tetapi semua kemewahan itu dia tinggalkan demi cintanya kepada Allah dan nabiNya.”

Melihat perilakunya yang baik dan kesabarannya yang tinggi, Nabi Muhammad SAW menyuruh Mus’ab untuk pergi ke Yastrib untuk mengunjungi orang-orang yang telah melakukan perjanjian kepada Nabi di Aqabah, menyebarkan Islam, dan mempersiapkan kota Yastrib untuk hijrah nabi Muhammad SAW. Padahal ketika itu masih banyak sahabat-sahabat lain yang mempunyai kekuatan dan keberanian. Tetapi, Nabi Muhammad SAW tetap memilih Mus’ab untuk pergi ke Yastrib. Selama di Yastrib, Mus’ab tinggal sebagai tamu di rumah Sa’ad Ibn Zurarah dari suku Khazraj. Bersama-sama mereka mengunjungi penduduk Yathrib, menjelaskan ajaran tauhid dan melantunkan ayat-ayat suci Al Quran. Suatu ketika, Mus’ab dan Sa’ad duduk di sumur di daerah bani Zafar. Kemudian mereka didekati oleh Usayd Ibn Khudayr dengan muka merah padam dan tombak ditangan. Sa’ad berbisik kepada Mus’ab:
“Dialah pemimpin kaum ini. Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah padanya.”
Mus’ab menjawab dengan tenang: “Jika dia mahu duduk, barulah aku akan berbicara dengannya.”
Usayd sangat marah kerana Mus’ab telah berhasil menyebarkan Islam dengan terus bertambahnya penduduk Yastrib yang memeluk Islam. Usayd berteriak: “Kenapa kamu berdua datang kepada kamu dan mempengaruhi kau yang lemah diantara kami? Jauhi kamu jika kamu masih ingin hidup.”
Mus’ab tersenyum dan berkata”Tidak maukah kamu duduk dan mendengarkan apa yang akan kami sampaikan? Jika kamu tidak menyukai apa yang akan
kami sampaikan, kami akan berhenti dan pergi”.
Usayd memutuskan untuk duduk dan mendengar apa yang Mus’ab ingin sampaikan.
Mus’ab mulai menerangkan mengenai Islam dan melantunkan sebagian dari Quran. Seketika ekspresi muka Usayd berubah. Kata pertama yang diucapkannya adalah: 

“Betapa indahnya ayat-ayat ini dan betapa benarnya kandungannya, bagaimana caranya memasuki agama ini?”

Mus’ab berkata: “Mandilah, bersihkan dirimu dan pakaianmu. Kemudian
ucapkanlah shahadat dan laksanakanlah shalat.” 

Usayd pun bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusanNya. Kemudian ia solat dua rakaat. Keislamaan Usayd inipun diikuti seorang pemimpin berpengaruh lainnya yaitu Sa’ad ibn Muaadh. Saat Nabi SAW hijrah, tidak satu rumah pun di Yastrib yang belum dikunjungi Mus’ab untuk menyampaikan islam. Pada hijrah berikutnya, Mus’ab membawa 70 orang muslim dari Yastrib untuk mengadakan perjanjian  dengan nabi Muhammad SAW.

                   Setelah pasukan muslimin menang pada perang Badar, kaum muslimin menangkap beberapa kaum kafir Makkah dan meminta tebusan akan mereka. Ketika Mus’ab melewati para tawanan ini, dia melihat abang kandungnya yang bernama Abu Aziz ibn Umayr. Mus’ab sama sekali tidak berusaha membebaskan abangnya, tetapi ia menyuruh agar abangnya itu diikat dengan erat sambil berkata: “Ibunya adalah seorang yang kaya dan akan memberi tebusan yang banyak, jagalah ia”. Ketika itu abangnya mengingatkan Mus’ab bahawa dia adalah abang kandungnya. Mus’ab menjawab : “Yang kuakui sebagai persaudaraan adalah persaudaraan dalam Islam, laki-laki ini adalah saudaraku, bukan kamu!”


 
~ Rijal dakwah harus belajar dari Mus'ab Ibn Umair ~


                    Ketika perang Uhud terjadi, Mus’ab dipilih untuk membawa panji bendera perang. Ketika pasukan pemanah meninggalkan bukit yang menjadi pengkalannya (melanggar perintah nabi), maka kaum kafir Makkah menyerang balik dan berusaha membunuh Nabi Muhammad SAW yang ketika itu dilindungi oleh beberapa sahabat. Seketika ada sebuah teriakan yang mengabarkan bahwa Nabi Muhammad SAW telah wafat. Pada ketika itulah titik kemuliaan hidup Mus’ab mencapai puncak. Ibrahim ibn Muhammad, saudara dari keluarga ayahnya, berkata; Mus’ab ibn ‘Umair membawa panji bendera perang ketika perang Uhud. Disaat pasukan muslimin berpecah-belah, Dia berdiri dengan tegap sampai ketika ia bertemu Ibn Qaami’ah yang seorang panglima pasukan kafir Mekkah. Ibn Qaami’ah kemudiah memukul dan memotong tangan kanannya namun Mus’ab tetap dengan teguh memegang bendera dengan tangan kirinya sambil berkata “Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meninggal sebelumku”. Kemudian Ibn Qaami’ah memutuskan tangan kiri Mus’ab. Mus’ab tetap menegakkan bendera perang dengan lengan atas dan dadanya sambil berkata “Dan sungguh Muhammad SAW itu adalah seorang nabi, dan Nabi-nabi telah meningal sebelumku”. Kemudian datang prajurit kafir ketiga yang menghujamkan tombaknya ke dada Mus’ab.

                       Setelah Perang Uhud berakhir, Nabi Muhammad SAW dan para sahabat kembali ke bukit Uhud untuk menguburkan syuhada-syuhada yang gugur, yang sebagian mayatnya sudah dirosakkan wanita-wanita quraisy yang mencuri barang mereka. Nabi Muhammad SAW berhenti sejenak ketika baginda melihat jenazah Mus’ab dan berkata: 

Diantara orang-orang yang beriman adalah mereka yang setia dengan janjinya dengan Allah. 

Kemudian Rasul SAW memandang ke jenazah-jenazah para syuhada dan berkata: Sesungguhnya nabi Allah ini bersaksi bahwa mereka adalah syuhada Allah pada hari Kebangkitan nanti. Ketika itu tidak cukup kain yang tersedia sebagai kain kafan untuk Mus’ab. Khabbab ibn Al-Arat menceritakan: Kami berhijrah mengikuti nabi hanya kerana Allah, maka akan kami terima balasannya dari Allah. Sebagian dari kami meninggal tanpa menikmati balasan apapun di dunia ini. dan salah satunya adalah Mus’ab ibn Umair, yang terbunuh pada perang Uhud. Dia tidak meninggalkan apa-apa kecuali sebuah kain wool yang sudah cabik. Jika kami tutupi kakinya dengan kain ini, maka kepalanya tidak tertutupi. Rasulullah SAW kemudian menyuruh kami menutupi kepalanya dengan kain tersebut dan menaruh rumput di atas kakinya.

                 Ingatan tentang Mus’ab dalam kuburnyalah yang menyebabkan sahabat seperti Abdul Rahmaan ibn Auf untuk menangis kerana takut tidak mendapat bahagiannya di hari akhirat kerana telah mendapat banyak nikmat dan kemudahan di dunia ini. Suatu ketika, pembantunya membawakan makanan untuk berbuka puasa dan Ibn Auf menangis, mengingati Mus’ab yagn sudah meninggal tanpa dapat merasakan nikmat dunia, melainkan mendapatkan kenikmatan abadi di Alam Baqa'.

Saturday, September 25, 2010

Ibrah dari Kembara Salman Al-Farisi

Bismillahirrahmanirrahim...

Dari Abdullah bin Abbas Radliyallahu ‘Anhuma berkata, “Salman al-Farisi Radliyallahu ‘Anhu menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Kata Salman, “Saya pemuda Parsi, penduduk kota Isfahan, berasal dari desa Jayyan. Bapaku pemimpin Desa. Orang terkaya dan berkedudukan tinggi di situ. Aku adalah insan yang paling disayangi ayah sejak dilahirkan. Kasih sayang beliau semakin bertambah seiring dengan peningkatan usiaku, sehingga kerana teramat sayang, aku dijaga di rumah seperti anak gadis. Aku mengabdikan diri dalam Agama Majusi (yang dianut ayah dan bangsaku). Aku ditugaskan untuk menjaga api penyembahan kami supaya api tersebut sentiasa menyala.


Ayahku memiliki kebun yang luas, dengan hasil yang banyak Kerana itu beliau menetap di sana untuk mengawasi dan memungut hasilnya. Pada suatu hari bapa pulang ke desa untuk menyelesaikan suatu urusan penting. Beliau berkata kepadaku, “Hai anakku! Bapa sekarang sangat sibuk. Kerana itu pergilah engkau mengurus kebun kita hari ini menggantikan Bapa. Aku pergi ke kebun kami. Dalam perjalanan ke sana aku melalui sebuah gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka sedang sembahyang. Suara itu sangat menarik perhatianku. Sebenarnya aku belum mengerti apa-apa tentang agama Nasrani dan agama-agama lain. Kerana selama ini aku dikurung bapa di rumah, tidak boleh bergaul dengan siapapun. Maka ketika aku mendengar suara mereka, aku tertarik untuk masuk ke gereja itu dan mengetahui apa yang sedang mereka lakukan. Aku kagum dengan cara mereka bersembahyang dan ingin menyertainya.

Kataku, “Demi Allah! ini lebih bagus daripada agama kami."Aku tidak berganjak dari gereja itu sehinggalah petang. Sehingga aku terlupa untuk ke kebun.

Aku bertanya kepada mereka, “Dari mana asal agama ini?”

“Dari Syam (Syria),” jawab mereka.

Setelah hari senja, barulah aku pulang. Bapa bertanyakan urusan kebun yang ditugaskan beliau kepadaku.

Jawabku, “Wahai, Bapa! Aku bertemu dengan orang sedang sembahyang di gereja. Aku kagum melihat mereka sembahyang. Belum pernah aku melihat cara orang sembahyang seperti itu. Kerana itu aku berada di gereja mereka sampai petang.” Bapa menasihati akan perbuatanku itu. Katanya, “Hai, anakku! Agama Nasrani itu bukan agama yang baik. Agamamu dan agama nenek moyangmu (Majusi) lebih baik dari agama Nasrani itu!” Jawabku, “Tidak! Demi Allah! Sesungguhnya agama merekalah yang lebih baik dari agama kita.”

Bapa khuatir dengan ucapanku itu. Dia takut kalau aku murtad dari agama Majusi yang kami anuti. Kerana itu dia mengurungku dan membelenggu kakiku dengan rantai. Ketika aku beroleh kesempatan, kukirim surat kepada orang-orang Nasrani minta tolong kepada mereka untuk memaklumkan kepadaku andai ada kafilah yang akan ke Syam supaya memberitahu kepadaku. Tidak berapa lama kemudian, datang kepada mereka satu kafilah yang hendak pergi ke Syam. Mereka memberitahu kepadaku. Maka aku berusaha untuk membebaskan diri daripada rantai yang membelengu diriku dan melarikan diri bersama kafilah tersebut ke Syam. Sampai di sana aku bertanya kepada mereka, “Siapa kepala agama Nasrani di sini?”

“Uskup yang menjaga “jawab mereka.

Aku pergi menemui Uskup seraya berkata kepadanya, “Aku tertarik masuk agama Nasrani. Aku bersedia menadi pelayan anda sambil belajar agama dan sembahyang bersama-sama anda.”

‘Masuklah!” kata Uskup.
Aku masuk, dan membaktikan diri kepadanya sebagai pelayan.Setelah beberapa lama aku berbakti kepadanya, tahulah aku Uskup itu orang jahat. Dia menganjurkan jama’ahnya bersedekah dan mendorong umatnya beramal pahala. Bila sedekah mereka telah terkumpul, disimpannya saja dalam perbendaharaannya dan tidak dibahagi-bahagikannya kepada fakir miskin sehingga kekayaannya telah berkumpul sebanyak tujuh peti emas.Aku sangat membencinya kerana perbuatannya yang mengambil kesempatan untuk mengumpul harta dengan duit sedekah kaumnya. tidak lama kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani berkumpul hendak menguburkannya.Aku berkata kepada mereka, ‘Pendeta kalian ini orang jahat. Dianjurkannya kalian bersedekah dan digembirakannya kalian dengan pahala yang akan kalian peroleh. Tapi bila kalian berikan sedekah kepadanya disimpannya saja untuk dirinya, tidak satupun yang diberikannya kepada fakir miskin.”

Tanya mereka, “Bagaimana kamu tahu demikian?”

Jawabku, “Akan kutunjukkan kepada kalian simpanannya.”

Kata mereka, “Ya, tunjukkanlah kepada kami!”

Maka kuperlihatkan kepada mereka simpanannya yang terdiri dan tujuh peti, penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka saksikan semuanya, mereka berkata, “Demi Allah! Jangan dikuburkan dia!” Lalu mereka salib jenazah uskup itu, kemudian mereka lempari dengan batu. Sesudah itu mereka angkat pendeta lain sebagai penggantinya. Akupun mengabdikan diri kepadanya. Belum pernah kulihat orang yang lebih zuhud daripadanya. Dia sangat membenci dunia tetapi sangat cinta kepada akhirat. Dia rajin beribadat siang malam. Kerana itu aku sangat menyukainya, dan lama tinggal bersamanya.Ketika ajalnya sudah dekat, aku bertanya kepadanya, “Wahai guru! Kepada siapa guru mempercayakanku seandainya guru meninggal. Dan dengan siapa aku harus berguru sepeninggalan guru?” Jawabnya, “Hai, anakku! Tidak seorang pun yang aku tahu, melainkan seorang pendeta di Mosul, yang belum merubah dan menukar-nukar ajaran-ajaran agama yang murni. Hubungi dia di sana!”

Maka tatkala guruku itu sudah meninggal, aku pergi mencari pendeta yang tinggal di Mosul. Kepadanya kuceritakan pengalamanku dan pesan guruku yang sudah meninggal itu.

Kata pendeta Mosul, “Tinggallah bersama saya.”

Aku tinggal bersamanya. Ternyata dia pendeta yang baik. Ketika dia hampir meninggal, aku berkata kepada nya, “Sebagaimana guru ketahui, mungkin ajal guru sudah dekat. Kepada siapa guru mempercayai seandainya guru sudah tiada?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Demi Allah! Aku tak tahu orang yang seperti kami, kecuali seorang pendeta di Nasibin. Hubungilah dia!”

Ketika pendeta Mosul itu sudah meninggal, aku pergi menemui pendeta di Nasibin. Kepadanya kuceritakan pengalamanku serta pesan pendeta Mosul.
Kata pendeta Nasibin, “Tinggallah bersama kami!” Setelah aku tinggal di sana, ternyata pendeta Nasibin itu memang baik. Aku mengabdi dan belajar dengannya sehinggalah beliau wafat. Setelah ajalnya sudah dekat, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu perihalku maka kepada siapa harusku berguru seandainya guru meninggal?”

Jawabnya, “Hai, anakku! Aku tidak tahu lagi pendeta yang masih memegang teguh agamanya, kecuali seorang pendeta yang tinggal di Amuria. Hubungilah dia!”

Aku pergi menghubungi pendeta di Amuria itu. Maka kuceritakan kepadanya pengalamanku.Katanya, “Tinggallah bersama kami!

Dengan petunjuknya, aku tinggal di sana sambil mengembala kambing dan sapi. Setelah guruku sudah dekat pula ajalnya, aku berkata kepadanya, “Guru sudah tahu urusanku. Maka kepada siapakah lagi aku akan anda percayai seandainya guru meninggal dan apakah yang harus kuperbuat?”

Katanya, “Hai, anakku! Setahuku tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang berpegang teguh dengan agama yang murni seperti kami. Tetapi sudah hampir tiba masanya, di tanah Arab akan muncul seorang Nabi yang diutus Allah membawa agama Nabi Ibrahim. Kemudian dia akan berpindah ke negeri yang banyak pohon kurma di sana, terletak antara dua bukit berbatu hitam. Nabi itu mempunyai ciri-ciri yang jelas. Dia mahu menerima dan memakan hadiah, tetapi tidak mahu menerima dan memakan sedekah. Di antara kedua bahunya terdapat tanda kenabian. Jika engkau sanggup pergilah ke negeri itu dan temuilah dia!”

Setelah pendeta Amuria itu wafat, aku masih tinggal di Amuria, sehingga pada suatu waktu segerombolan saudagar Arab dan kabilah “Kalb” lewat di sana. Aku berkata kepada mereka, “Jika kalian mahu membawaku ke negeri Arab, aku berikan kepada kalian semua sapi dan kambing-kambingku.” Jawab mereka, “Baiklah! Kami bawa engkau ke sana.” Maka kuberikan kepada mereka sapi dan kambing peliharaanku semuanya. Aku dibawanya bersama-sama mereka. Sesampainya kami di Wadil Qura aku ditipu oleh mereka. Aku dijual kepada seorang Yahudi. Maka dengan terpaksa aku pergi dengan Yahudi itu dan berkhidmat kepadanya sebagai hamba. Pada suatu hari anak saudara majikanku datang mengunjunginya, iaitu Yahudi Bani Quraizhah, lalu aku dibelinya daripada majikanku. Aku berpindah ke Yastrib dengan majikanku yang baru ini. Di sana aku melihat banyak pohon kurma seperti yang diceritakan guruku, Pendeta Amuria. Aku yakin itulah kota yang dimaksud guruku itu. Aku tinggal di kota itu bersama majikanku yang baru. Ketika itu Nabi yang baru diutus sudah muncul. Tetapi baginda masih berada di Makkah menyeru kaumnya. Namun begitu aku belum mendengar apa-apa tentang kehadiran serta da’wah yang baginda sebarkan kerana aku terlalu sibuk dengan tugasku sebagai hamba.

Tidak berapa lama kemudian, Rasulullah saw. berpindah ke Yastrib. Demi Allah! Ketika itu aku sedang berada di puncak pohon kurma melaksanakan tugas yang diperintahkan majikanku. Dan majikanku itu duduk di bawah pohon. Tiba-tiba datang anak saudaranya mengatakan, “Biar mampus Bani Qaiah!( kabilah Aus dan Khazraj) Demi Allah! Sekarang mereka berkumpul di Quba’ menyambut kedatangan lelaki dari Makkah yang mendakwa dirinya Nabi.”

Mendengar ucapannya itu badanku terasa panas dingin seperti demam, sehingga aku menggigil kerananya. Aku kuatir akan jatuh dan tubuhku akan menimpa majikanku. Aku segera turun dari puncak ponon, lalu bertanya kepada tamu itu, “Apa kabar anda? Cubalah khabarkan kembali kepadaku!” Majikanku marah dan memukulku seraya berkata, “Ini bukan urusanmu! Kerjakan tugasmu kembali!” Keesokannya aku mengambil buah kurma seberapa banyak yang mampu kukumpulkan. Lalu kubawa ke hadapan Rasulullah saw..

Kataku “Aku tahu tuan orang soleh. Tuan datang bersama-sama sahabat tuan sebagai perantau. Inilah sedikit kurma dariku untuk sedekahkan kepada tuan. Aku lihat tuanlah yang lebih berhak menerimanya daripada yang lain-lain.” Lalu aku hulurkan kurma itu ke hadapannya. Baginda berkata kepada para sahabatnya, “silakan kalian makan,…!” Tetapi baginda tidak menyentuh sedikit pun makanan itu apalagi untuk memakannya. Aku berkata dalam hati, “Inilah satu di antara ciri cirinya!” Kemudian aku pergi meninggalkannya dan kukumpulkan pula sedikit demi sedikit kurma yang terdaya kukumpulkan. Ketika Rasulullah saw. pindah dari Quba’ ke Madinah, kubawa kurma itu kepada baginda. Kataku, “Aku lihat tuan tidak mahu memakan sedekah. Sekarang kubawakan sedikit kurma, sebagai hadiah untuk tuan.” Rasulullah saw. memakan buah kurma yang kuhadiahkan kepadanya. Dan baginda mempersilakan pula para sahabatnya makan bersama-sama dengannya. Kataku dalam hati, “ini ciri kedua!”

Kemudian kudatangi baginda di Baqi’, ketika baginda menghantar jenazah sahabat baginda untuk dimakamkan di sana. Aku melihat baginda memakai dua helai kain. Setelah aku memberi salam kepada baginda, aku berjalan mengekorinya sambil melihat ke belakang baginda untuk melihat tanda kenabian yang dikatakan guruku. Agaknya baginda mengetahui maksudku. Maka dijatuhkannya kain yang menyelimuti belakangnya, sehingga aku melihat dengan jelas tanda kenabiannya. Barulah aku yakin, dia adalah Nabi yang baru diutus itu. Aku terus memeluk bagindanya, lalu kuciumi dia sambil menangis.

Tanya Rasulullah, “Bagaimana khabar Anda?”

Maka kuceritakan kepada beliau seluruh kisah pengalamanku. Beliau kagum dan menganjurkan supaya aku menceritakan pula pengalamanku itu kepada para sahabat baginda. Lalu kuceritakan pula kepada mereka. Mereka sangat kagum dan gembira mendengar kisah pengalamanku.

Berbahagilah Salman Al-Farisy yang telah berjuang mencari agama yang hak di setiap tempat. Berbahagialah Salman yang telah menemukan agama yang hak, lalu dia iman dengan agama itu dan memegang teguh agama yang diimaninya itu. Berbahagialah Salman pada hari kematiannya, dan pada hari dia dibangkitkan kembali kelak. Salman sibuk bekerja sebagai hamba. Dan kerana inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah saw. suatu hari bersabda kepadaku, "Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!" Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah saw. mengumpulkan para sahabat dan bersabda, "Berilah bantuan kepada saudara kalian ini." Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, setiap orang sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon. Setelah terkumpul Rasulullah saw. bersabda kepadaku, "Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku."

Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah saw. dan memberitahukan perihalku, Kemudian Rasulullah saw. keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada baginda dan Rasulullah saw. pun meletakkannya di tangan baginda. Maka, demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati. Untuk tebusan pohon kurma sudah dipenuhi, aku masih mempunyai tanggungan wang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah saw. membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas baginda bersabda, "Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?" Kemudian aku dipanggil baginda, lalu baginda bersabda, "Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!"

"Wahai Rasulullah saw., bagaimana status emas ini bagiku? Soalku inginkan kepastian daripada baginda. Rasulullah menjawab, "Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya." Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di tanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah saw. dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.’

(HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir(6/222); lbnu Sa’ad dalamath-Thabagat, 4/75; al-Balhaqi dalam al-kubra, 10/323.)



:: Merenung sejenak dan mengambil ibrah dari kembara Salman Al-Farisi. Allahu Rabbi... hamba kagumi kembara tokoh ini dalam mencari kebenaran dan kecintaannya kepada Deenul Haq ini. Dalam susah payahnya mencari yang haq, akhirnya Salman Al-Farisi di beri Allah hidayah itu, lantas di GENGGAM dan di DUKUNGINYA hingga akhir hayat.Sama-sama koreksi diri, tadhiyyah dan kesungguhan kita sekadar mana, atau hanya mampu bergelumang dengan alasan. Sedangkan Allah telah meminjamkan peluang dan nikmat ini buat para dai'e agar terus menjadi menyambung perjuangan Nabi Junjungan. Kita bisa beralasan dengan manusia, tapi haruslah kita bimbang, andai dalam kita tidak sedar, diri kita sedang beralasan dengan Allah S.W.T. Ayuh para amilin,jangan kita lesu... ::